Monday, August 22, 2011

Pengalaman Pertama kali I'tikaf




Alhamdulillah...kepulangan 'segera' ke Mesir pada bulan Ramadhan ini merupakan satu hikmah yang besar dari Allah saya rasakan. walaupun tidak dinafikan, kesedihan itu tetap ada mengenangkan diri yang tidak berkesempatan untuk berhari raya di tanah air bersama keluarga di saat kaki sudahpun melangkahkan di bumi malaysia. Namun ia tidaklah sebesar nikmat yang Allah hadiahkan buat saya merasai pengalaman pertama ber'RAMADHAN' di Mesir..

Subhanallah. dari puasanya, pengisian hari-hari sepanjang Ramadhannya, tadarusnya, terawihnya, kebersamaannya.... semuanya ada kelainan dan mendatangkan memori indah tersendiri. Terasa sayang untuk melepaskan Ramadhan kali ini pergi... dan betapa saya semakin cinta dengan bumi Mesir yang banyak mentarbiyah diri selaku pelajar Perubatan islam yang terpilih untuk dicampakkan disini.. Alhamdulillah. Semuanya dengan izin Allah. ALLAH. Dialah Yang Maha Besar lagi Sebaik-baik perancang proposal kehidupan hamba-hambaNya..

Memasuki fasa ketiga Ramadhan, tidak sabar untuk menantikan program yang lebih hebat. Jika zaman Nabi dulu pun, sampai 'ikat kain' orang kata, sungguh-sungguh untuk menggunakan sepenuhnya 10 hari terakhir Ramadhan ini. kerana kita tidak pasti, adakah kita akan bakal bertemu lagi dengan Ramadhan akan datang atau tidak. Malah fasa 10 terakhir ini jugalah yang dikatakan ter'sembunyi'nya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan..

"Apabila masuk 10 terakhir bulan Ramadan, maka Nabi menghidupkan malam, mengejutkan isterinya, dan mengetatkan kainnya (tidak bersama isteri kerana sibuk dengan amal ibadah)."
(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

"Carilah malam al-Qadr pada 10 hari terakhir bulan Ramadan." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Sungguh, malam al-Qadr adalah rahsia Allah... tapi insyaAllah... kita semua berpeluang untuk mencari dan meraihnya dengan izin Allah... justeru tidak kurang mereka yang bila memasuki 10 akhir Ramadhan, bersungguh2 menghidupkan sunnah iktikaf di masjid seperti yang dilakukan Nabi saw ketika memasuki fasa ketiga akhir ini. Malam-malam dihidupkan dengan qiam dan ibadah kepada Allah... beruntunglah mereka yang mengejarnya dan sedar akan kepentingan memanfaatkan sepenuhnya 10 hari yang masih berbaki ini... melipatgandakan ibadah kepada Allah, dan BUKANNYA 'melipatgandakan' persiapan untuk 'beraya'.

Pengalaman pertama kali iktikaf di sini baru-baru ini, begitu mensyahdukan hati saya.. Selaku muslimah yang dilahirkan di Malaysia, saya akui, mungkin sukar untuk mendapatkan pengalaman ini sewaktu di tanah air sendiri. justeru pengalaman bangun 1 pagi untuk ke Masjid, diambil musyrif dan dapat beriktikaf bersama para jemaah tempatan mahupun dari sahabat-sahabat malaysia sendiri di sini merupakan satu pengalaman berharga yang pastinya tidak akan dilupakan... Insyaallah, saya akan meneruskan di Malaysia jika diizinkan 'suami' suatu hari nanti. kerana Musllimah juga tidak terkecuali dari keharusan untuk beriktikaf. malah ia merupakan sunnah yang pernah dilakukan oleh isteri-isteri Nabi saw.

Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Aisyah yang mengatakan: “Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Romadhon sampai akhir hayatnya. Dan sepeninggal beliau, istri-istrinya pun berii’tikaf" . (HR. Al-Bukhari, 3/42, No. 2025)

I’tikaf disunnahkan bagi lelaki, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas, yaitu, pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua. Apabila izin telah dikeluarkan, tidak boleh ditarik lagi.



Perempuan sah melakukan i‘tikaf sebagaimana para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Untuk jelasnya beberapa hukum mengenai perempuan yang beri‘tikaf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmuk (Al-Majmuk: 6/470-471):
1. Tidak sah dan tidak harus seorang perempuan beri‘tikaf tanpa izin daripada suami. Jika isteri bernazar untuk melakukan i‘tikaf dengan kebenaran suami, sebagai contoh ia ditentukan selama 2 hari, menurut Imam An-Nawawi harus bagi isteri tersebut masuk ke masjid tanpa memerlukan izin daripada suami, kerana kebenaran nazar itu adalah izin untuk masuk ke masjid. Jika nazar tersebut tidak ditentukan dengan masa, maka tidak harus bagi isteri masuk ke masjid tanpa izin suami.
2. Jika seorang isteri masuk masjid melakukan i‘tikaf sunat tanpa izin suami atau sebaliknya, maka harus bagi suami melarang meneruskan i‘tikaf itu tanpa khilaf (percanggahan ulama).

Kedua, tempat dan pelaksanaan i’tikaf wanita sesuai dengan tujuan syariah. Para ulama berbeda pendapat tentang masjid untuk i’tikaf kaum wanita. Tapi, sebagian menganggap afdhal jika wanita beri’tikaf di masjid tempat shalat di rumahnya. Tapi, jika ia akan mendapat manfaat yang banyak dengan i’tikaf di masjid, ya tidak masalah.
Terakhir, agar i’tikaf kita berhasil memperkokoh keislaman dan ketakwaan kita, tidak ada salahnya jika dalam beri’tikaf kita dibimbing oleh orang-orang yang ahli dan mampu mengarahkan kita dalam membersihkan diri dari dosa dan cela.

wallahualam.. Semoga iktikaf ini diterima disisi-Nya... InsyaAllah..

SELAMAT MENERUSKAN PESTA IBADAH......

rujukan :